Rabu, 10 Juli 2013
Tujuh Belas Tahun
Tujuh belas tahun yang lalu, seorang ibu sedang bertarung dengan nyawa demi anak pertamanya. Tujuh belas tahun yang lalu, seorang ayah dengan cemas terus berdo'a dan menanti kelahiran anaknya. Tujuh belas tahun yang lalu, seorang bayi kecil yang dinantikan itu akhirnya menjeritkan tangisan pertama, pertanda ia lahir kedunia dengan selamat.
Tujuh belas tahun sudah anak kecil itu tumbuh menjadi wanita yang cantik, yang soleha, yang patuh dengan orangtua. Tujuh belas tahun sudah anak itu diasuh oleh orangtua dan keluarga dengan penuh kasih sayang. Tujuh belas tahun sudah anak itu menumpang diladang bumi Sang Pencipta.
Senin, 08 Juli 2013
Gagal?
Saya nangis,
nangis bukan karena kecewa melihat hasil yang tak memuaskan, justru
menangis karena terlalu sedih, saya sedih karena takbisa memunculkan lengkung senyum orangtua sore ini. Saya gagal dikesempatan ini, dugaan awal saya tepat sekali. Kemarin, saat memulainya, sifat plin-plan saya keluar, antara ingin mencoba atau tidak sama sekali. Akhirnya saya putuskan untuk mencoba. Tapi saya 'mencoba' nya tidak dengan kesungguhan, tidak dengan keseriusan. Sayapun terlalu menganggap enteng kesempatan ini. Hasil yang saya dapatkanpun sesuai dengan yang saya lakukan; kegagalan.
Kegagalan itu membuat saya lebih dekat dengan diri sendiri. Disaat gagal itu datang, yang bisa diandalkan ya cuma diri sendiri. Didalam kegagalan itu, sayapun terus mencoba menghibur diri dengan kata-kata "ORANG SUKSES SERING MENGALAMI KEGAGALAN, lihat saja orang-orang hebat didunia ini, begitu banyak kegagalan yang menghampirinya, sampai suatu ketika kegagalan itu mati, dan tumbuhlah kesuksesan yang bersinar. DAN SAYA ADALAH ORANG SUKSES PENERUS MEREKA -orang hebat-".
Kegagalan itu membuat saya lebih dekat dengan diri sendiri. Disaat gagal itu datang, yang bisa diandalkan ya cuma diri sendiri. Didalam kegagalan itu, sayapun terus mencoba menghibur diri dengan kata-kata "ORANG SUKSES SERING MENGALAMI KEGAGALAN, lihat saja orang-orang hebat didunia ini, begitu banyak kegagalan yang menghampirinya, sampai suatu ketika kegagalan itu mati, dan tumbuhlah kesuksesan yang bersinar. DAN SAYA ADALAH ORANG SUKSES PENERUS MEREKA -orang hebat-".
Senin, 01 Juli 2013
Selamat datang bulanku, Juli
Juli, Selalu saya nantikan kehadirannya. Selalu saya tunggu kedatangannya.
Dibulan ini saya berharap mendapatkan banyak kabar baik dari semesta, kabar yang tak membuat saya kecewa.
Bukan cuma menanti Juli dengan rasa was-was menjelang pengumuman SBMPTN pada tanggal 8 mendatang, tapi saya juga menanti Juli dengan rasa syukur, karena dibulan inilah usia saya bertambah setahun, menjadi 17 tahun. Dan rasa syukur sayapun bertambah-tambah ketika mengetahui dihari penambahan usia saya, adalah awal mula pelaksanaan Puasa Ramadhan tahun 1434 H (kalau tidak berubah jadwal, puasa pertama akan dilaksanakan pada tanggal kelahiran saya, 10 Juli).
Harapan saya dibulan berkah ini ada banyak, sebagiannya:
Minggu, 23 Juni 2013
Masih Muda Jangan Mikirin Nikah
Biarpun usiaku baru mau otw
keangka 17 tahun, tapi aku juga sering membayangkan kemungkinan-kemungkinan
yang akan terjadi dimasa depan. Bukan untuk sok tau dengan rencana Tuhan, tapi
inilah sifat aslinya manusia, hanya bisa menduga-duga. Sungguh, tidak lebih dari itu.
Kalau kamu manusia, kamu pernah nggak sih berandai-andai kemasa depan?
Misalnya: Bagaimana
karir kamu diusia muda? Gimana sistem pergaulan kamu ketika udah jadi orang dewasa? Gimana asmara
percintaan kamu yang tak lagi didominasi dengan kelabilan?
Gimana, pernah membayangkan itu semua nggak? Kalau pernah,
berarti kita sama, asli manusia! :D
Senin, 03 Juni 2013
Aku, Kamu, dan Gedung Biru
Tanpa
berkenalan, tanpa pula berjabat tangan. Kita diatur semesta untuk langsung
bertatapan, dan buru-buru mengalihkan pandangan. Iya, sesederhana itu awal
pertemuan kita dulu. Apa kau masih ingat? Entahlah.
September
lalu, takdir menyatukan kita, lebih tepatnya aku dan kamu, digedung bercet biru
itu. Pertemuan kita yang sederhana itu berlalu begitu saja, sampai saat ini.
Ternyata aku yang terlalu berharap, sampai saat ini juga. Dahulu, aku mengira
perkenalan kita bisa menuju kearah mata angin bahagia, saling bahagia merasakan
dunia bersama, dalam artian cinta. Tapi perkiraanku salah, kita dipertemukan
hanya untuk saling bertatapan, tanpa sapaan, tanpa pula saling memperjuangkan.
Mungkin benar, diantara kita saling gengsi, sampai berharap terlalu tinggi, hingga
menyebabkan salahsatunya sakit hati.
Langganan:
Postingan (Atom)